Mengenal dan Menerima Diri Sendiri

 

            Nama saya Haura Hanan Hafizhah. Saya merupakan anak tunggal dari ayah dan ibu saya. Saya lahir di Jakarta, 12 Juli 2002. Saya dikenal sebagai anak yang ceria oleh teman-teman saya. Tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan teman baru. Namun, dibalik itu semua, ada banyak alasan yang melatarbelakangi semuanya.

            Saat sekolah dasar, saya dikenal sebagai siswa yang berprestasi. Saya menjuarai lomba matematika ipa tingkat kota dan mendapat juara dua. Saya juga menguasai olahraga renang. Hal itu karena sejak kecil saya sudah mengikuti banyak les, mulai dari Kumon, IEC, les renang, les Bersama guru mata pelajaran, dan lainnya. Selain itu, saya juga aktif di bidang modelling, hampir setiap lomba yang saya ikuti, saya tidak pulang dengan tangan kosong.

            Sejak kecil, saya dituntut untuk mendapat nilai 100. Apabila nilai saya tidak memenuhi “standar” yang dibuat oleh orang tua saya, maka saya akan dimarahi. Metode belajar yang saya lakukan adalah didikte oleh ibu saya. Hal ini terus berjalan sampai akhirnya seorang ibu, yang biasa saya panggil bunda, meninggal dunia pada saat saya duduk di kelas 6 SD.  Saya harus pindah ke rumah bibi saya karena permasalahan internal, meninggalkan ayah saya di rumah. Namun, kebutuhan finansial saya masih ditanggung ayah saya yang ditransfer ke rekening atau bertemu sesekali. Sejak saat itu, saya harus berusaha belajar sendirian di lingkungan baru, dengan teman-teman baru. Saya berhasil mempertahankan ranking 1 saya sampai akhir kelas 6.

            Pada saat SMP, prestasi saya menurun drastis. Awal kelas tujuh, saya mendapat ranking 7. Hal ini membuat saya kaget dan panik. “Kalau bunda tahu, mungkin bunda akan marah”, batin saya. Saya berusaha sekeras mungkin dan akhirnya bertahan di ranking 2 sampai akhir kelas 9. Saya berusaha sendirian, tidak ada tempat mengadu karena merasa tidak enak dengan bibi saya. Namun saya yakin, semua orang berusaha di jalannya masing-masing, jika ini takdir saya, maka saya harus berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan sampai akhir.

            Saya sudah terlatih mandiri. Saat memasuki masa SMA, saya memberanikan diri untuk terlihat menonjol. Walaupun tidak ikut OSIS, tapi saya mengikuti organisasi lain dan berusaha untuk dikenal dan mempunyai banyak teman di tiap kelas, bahkan di setiap angkatan. Saya sudah tidak mempunyai tekanan “Harus ranking pertama” lagi, karena saya sadar, ilmu itu tidak selamanya tentang nilai atau kemampuan akademik saja, namun bagaimana kita memahami dan mampu mengimplementasikannya ke dalam hidup kita. Saya merasakan persaingan yang cukup ketat di SMA. Walaupun sudah mengikuti bimbel pun, tetap terasa berat karena teman-teman pun hampir satu kelas mengikuti bimbel.

            Saya sering belajar di kedai kopi atau bahkan di restoran, merenung, memperhatikan orang-orang di sekitar yang biasanya adalah mahasiswa atau orang yang sudah bekerja. Saya semakin sadar bahwa saya tidak berjuang sendirian. Everyone has their own struggle. Dibalik senyuman, tangisan, dan raut wajah seseorang, kita tidak tahu apa yang sedang mereka lewati saat ini. Saya juga suka bertukar cerita dengan teman-teman saya. Hal itu semakin membuka pikiran saya untuk tidak menyerah.

            Kelas 12 merupakan waktu yang sulit. Patah hati, tekanan untuk ujian, berkunjung ke rumah ayah untuk pertama kali setelah enam tahun, tertolak SNMPTN, tertolak PPKB UI, saya rasakan dalam waktu yang berdekatan. Hal itu sempat membuat saya down, terlebih tidak ada tempat untuk dilampiaskan. Sampai akhirnya ada pandemi Covid-19 yang waktu itu sempat me-lockdown sementara sehingga USBN dan UN dibatalkan. Bahan ujian UTBK pun hanya TPS saja. Saya merasa sedih karena tidak dapat bertemu teman-teman, namun bersyukur juga karena saya merasa belum cukup belajar untuk materi UTBK dan dapat saya kejar selama libur.

            Saya sempat menggantung mimpi untuk lolos Teknik Industri UI selama tiga tahun. Namun, saat mengisi portal LTMPT, entah mengapa pilihan saya tertuju pada Teknik Industri UGM dan UB. Saya belajar dari malam hingga pagi, karena suasana rumah yang kurang kondusif. Saya melihat progress orang-orang di Twitter. Anak-anak “ambis” yang hasil try out nya sudah menyentuh skor 900 di TO pertama, sedangkan saya masih di ranah 500-600. Merasa putus asa, namun saya tidak boleh menyerah karena lagi-lagi, tekanan keluarga saya yang masih memiliki stereotipe, “Kuliah harus di PTN, jangan swasta”.

            Pengumuman SBMPTN tiba, hasilnya gagal. Rasanya hancur, tidak bisa berpikir jernih. Menangis setiap malam sudah menjadi kebiasaan rutin. Saya deactive Instagram, dan beberapa social media lainnya kecuali Whatsapp dan Twitter. Begitu pula saat pengumuman ujian mandiri. Saya gagal total tujuh kali semenjak SNMPTN. Pengumuman yang tersisa adalah SELMA UB, Vokasi ITS, dan TEL-U. Waktu itu pengumuman mandiri UB adalah tanggal 31 Agustus, tetapi tiba-tiba dimajukan menjadi tanggal 30 agustus 2020. Saya sudah pasrah dengan hasilnya, saya menunda waktu untuk membuka pengumuman dengan mengerjakan esai untuk pendaftaran vokasi ITS. Saat pengumuman dibuka, ternyata saya lolos di Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya. Saya menelfon teman-teman saya, termasuk teman sebangku saya yang sudah lolos duluan di UB lewat jalur SNMPTN. Ada yang girang, bahkan menangis. Saya bersyukur memiliki teman-teman yang selalu sabar dan suportif apapun hasil yang saya dapatkan.

            Tidak lama setelahnya, pengumuman TEL-U dan ITS tiba. Saya lolos di Teknik Industri TEL-U, dan lolos D- 4 Teknologi Rekayasa Industri Kimia ITS. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang sudah memberi saya kesempatan sejauh ini. “Itu berarti Tuhan mau melihat sampai mana kamu berjuang, dan sampai mana kamu bersabar.” Itu yang bisa saya ucapkan dalam hati. Sekarang, saya sudah resmi menjadi mahasiswi Universitas Brawijaya dan saya sangat bangga. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk berjuang dan mengukir banyak prestasi di UB.

            Untuk siapa pun di luar sana yang sedang berjuang, berjuanglah sampai akhir. Masa sulit dan jatuh memanglah tidak mudah untuk dilalui, tapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Know your worth, karena yang menjalani hidup kita, ya kita sendiri. Jangan batasi diri kita, karena kita bisa berlari lebih jauh dari apa yang kita bayangkan sekarang. Tidak ada salahnya bermimpi besar, yang penting diimbangi dengan usaha besar dan tetap menghibur diri secukupnya. Selruh tangisan saat ini, akan berbuah manis nantinya, percayalah. Juga, jangan pernah merasa sendiri, karena banyak orang-orang yang sama-sama sedang berjuang dan mendukungmu. Percaya juga bahwa Tuhan tidak pernah tidur, Dia mendengar doa kita, namun terkadang, apa yang kita sudah rencanakan belum pasti yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan menyerah karena perjalanan masih panjang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer